Kisah Haru Jamaah Haji Tuban: Dari Daging Unta hingga Ibadah di Usia 87 Tahun

03 July, 2025
JURNAL PAPAR, Tuban – Suasana haru menyelimuti halaman Kompi Senapan C 521 Tuban pada Rabu malam, 2 Juli 2025. Waktu menunjukkan pukul 20.48 WIB saat dua kelompok jamaah haji dari Kloter 68 dan 69 tiba dengan selamat. Kloter 68 berjumlah 384 orang, sementara Kloter 69 membawa pulang 375 jiwa—semuanya membawa kisah dan kenangan dari Tanah Suci.

Gema takbir menyambut kepulangan mereka, bersahut-sahutan dengan pelukan hangat keluarga yang menunggu. Meski kelelahan usai perjalanan panjang, wajah-wajah para jamaah memancarkan rasa syukur yang dalam.

Di balik sambutan penuh haru itu, tersimpan beragam pengalaman spiritual dan keseharian yang membekas. Seperti yang dirasakan Ngatining (67), warga Palang, yang mengaku cukup terkejut dengan suhu ekstrem di Mekkah dan Madinah. “Panas banget di sana,” ujarnya sambil tertawa kecil. Meski begitu, ia tetap khusyuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah. “Saya juga sempat mencoba daging unta dan olahan daging sapi yang belum pernah saya makan sebelumnya,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami Wasiman dari Leran Wetan. Menurutnya, suhu di Madinah terasa sangat menyengat, terutama selepas salat Ashar. “Keluar dari hotel yang adem, langsung disambut panas luar biasa,” kenangnya. Meski begitu, ia justru merasa tenang dan nyaman saat beribadah. “Suasananya sangat mendukung, tenang sekali,” katanya.

Soal makanan menjadi cerita tersendiri bagi para jamaah. Banyak yang harus beradaptasi dengan selera baru. Sayuran jarang tersedia, sambal tidak sepedas di rumah, dan lauk pauk didominasi daging. Meski begitu, pelayanan konsumsi dinilai memadai tiga kali sehari dengan menu bergizi.

Cerita paling menyentuh datang dari Zulaikah Imanawati (50), warga Tuban. Ia berangkat menggantikan almarhumah ibunya yang wafat pada 2020. “Ini warisan dari ibu saya. Beliau sudah meninggal, dan saya yang berangkat menggantikan,” katanya lirih. Meski sempat merasa asing dengan suasana dan makanan, semangatnya tak surut hingga seluruh ibadah tuntas dijalankan.

Di antara ratusan jamaah, ada pula yang menunaikan haji di usia senja. Kamsirah (87), misalnya, menjalani seluruh prosesi ibadah dengan bantuan kursi roda. “Yang penting saya tetap semangat,” ucapnya singkat, matanya berbinar.

Bagi Diah Ratnawati, pengalaman haji menjadi semakin istimewa karena dijalani bersama sang suami. “Ini momen penting, tidak hanya untuk mendekatkan diri pada Allah, tapi juga saling menguatkan,” ujarnya.

Perjalanan haji memang bukan sekadar perjalanan spiritual. Ia menuntut kesiapan fisik, adaptasi budaya, hingga ketangguhan mental. Namun di balik segala tantangan itu, tersimpan pengalaman yang tak ternilai tentang makna sabar, syukur, dan keikhlasan dalam menggapai ridha Ilahi.